Selasa, 30 Maret 2010
Gerombolan Bermotor Berulah Lagi
Pelaku Penyerangan Berbekal Senjata Tajam
Andri Haryanto - detikBandung
Kaca warnet yang dirusak
Foto Terkait
gb
Gerombolan Bermotor Serang Warnet
Bandung - Gerombolan bermotor yang menyerang warung internet (warnet) Cyberport di Jalan Kiaracondong No.204, Kota Bandung, diketahui membawa senjata tajam dalam aksinya.
"Ada yang bawa semacam samurai, parang, dan benda benda lainnya," kata penjaga kios yang berada di sebelah warnet, Hendi (29), saat ditemui di lokasi kejadian, Senin (29/3/2010) malam.
Berdasarkan kesaksiannya, gerombolan bermotor tersebut berjumlah sekitar 10 motor. "Mereka berhenti di depan warnet dan langsung pukul orang-orang yang nongkrong di teras (warnet-red)," terang Hendi.
Dalam penyerangan itu, ia tidak melihat adanya atribut atau bendera kelompok motor tertentu. "Tidak terlalu perhatikan, keburu panik," katanya.
Beruntung kios yang berada sekitar tiga meter dari lokasi kejadian tidak menjadi amuk gerombolan bermotor. "Botol yang ada ada di depan kios dipakai untuk melempar," tutut Hendi.
Warnet Cyberport di Jalan Kiaracondong diserang sekelompok orang tak dikenal, Senin (29/3/2010), sekitar pukul 21.00 WIB. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Kaca jendela dan pintu rusak parah akibat ulah gerembolan bermotor ini. Dua orang luka ringan akibat hantaman benda tumpul.
Sehari sebelumnya, peristiwa penganiaayaan yang dilakukan sekelompok gerombolan bermotor terjadi di Jalan RE Martadinata, Minggu (28/3/2010) petang. Seorang pemuda menderita luka lebam di wajah dan kepala akibat dihantam helm serta batu.
(ahy/bbn)
Rabu, 03 Maret 2010
AC Motors AC Motors
AC motor juga cukup mudah dipahami. Mereka adalah agak rumit untuk membuat namun akan membutuhkan satu-fasa atau tiga-fasa listrik AC untuk membuat mereka bekerja. Dalam sedikit diagram di atas, kami punya kandang tupai ac motor induksi, permanen magnet mesin sinkron, dan motor sinkron. Penemu fase tiga motor AC adalah Nikola Tesla, pelopor dalam elektromagnetisme.
Berikut adalah beberapa situs besar yang menjelaskan cara kerja motor AC dan bagaimana desain mereka.
http://www.motorsoft.net/ http://www.motorsoft.net/
http://www.magsoft-flux.com/ (shows a Flux2D animation of the fields within a motor) http://www.magsoft-flux.com/ (menunjukkan sebuah animasi dari Flux2D bidang dalam motor)
http://www.ece.umn.edu/users/riaz/animations/spacevectors.html Great animations! http://www.ece.umn.edu/users/riaz/animations/spacevectors.html Great Animasi!
Ada beberapa jenis motor AC dasar Anda bisa membangun. Mereka juga membuat ilmu super proyek yang adil.
http://www.eskimo.com/~billb/maglev/linmot.txt http://www.eskimo.com/ ~ billb / maglev / linmot.txt
http://www.italtec.it/enkitmo.htm http://www.italtec.it/enkitmo.htm
A Very Simple AC Motor Sebuah Sangat Sederhana AC Motor
Berikut adalah foto yang sangat sederhana motor AC arus eddy saya mengumpulkan. Saya rasa ini salah satu hadiah untuk memenangkan AC Motor paling sederhana bisa Anda lakukan. It works great dan sangat mudah untuk membangun. Aku menemukan rencana asli dalam sebuah buku berjudul: "Demonstrasi Fisika Percobaan" oleh Harry F. Meiners, Vol 2, Ronald Press Co, NY, 1970, LCCC # 69-14.674. Dengan beberapa percobaan, saya menemukan bahwa dapat berputar lebih cepat saat kacang berada pada akhir baut mur daripada ketika dihilangkan. Apa yang anda pikir akan terjadi jika rotor tersebut akan dipindahkan ke sisi lain baut? ini terdiri dari sebuah kumparan dipasang pada suatu 3 / 4 "baut. Kumparan adalah sekitar 100 'dari 20AWG kawat, pada suatu bentuk sekitar 1,5 "panjang, dengan resistansi dc sekitar 1,2 ohm, dan induktansi sekitar 2.4mH sebagai induktor inti udara. Tegangan yang diberikan pada kumparan adalah 19Vac dari plug-in transformator dan memasok sekitar 2.5Aac ke koil. Rotor adalah aluminium kotak film (saat ini mereka menggunakan plastik, tapi mungkin Anda masih menemukan beberapa ini sekitar - minta teman-teman anda) dengan lesung pipi di bagian bawah itu, bertumpu pada pensil. (saya menduga bahwa grafit pada pensil akan melumasi rotor.)
Arus eddy motor yang di sebelah kiri memiliki dua rotor, mereka berputar dalam arah yang berlawanan. The set-up di sebelah kanan menunjukkan variac, multimeter, arus eddy motor, dan strobo yang dikalibrasi. Dengan ini, kita bisa plot tegangan vs kecepatan. Kami menemukan bahwa rotor akan berputar sekitar 1000 rpm dengan 120V diberikan kepadanya. bisa tidak menyimpannya di sana untuk waktu yang lama, karena kumparan dan baut mendapatkan panas nyata. Pada kedua kumparan, kawat dengan diameter yang lebih kecil digunakan, sehingga resistansi dc sekitar 11,2 ohm, dan 24mH sebagai induktor inti udara. Dengan ini, kita bisa menerapkan 120Vac untuk itu dan hanya 2 ampli akan diambil.
Hal ini menunjukkan konstruksi dasar. Gerendel adalah 4 "panjang baut 3/4-13, kayu adalah 3 / 4" tebal. Aku menaruh lesung pipi kecil ke bagian bawah kotak film aluminium sehingga akan duduk ke titik pensil . strip merah dari tape membantu dengan strobo dan terlihat keren seperti berputar. aku menemukan bahwa kacang di ujung baut membuatnya lebih cepat.
A Shaded Pole AC Motor Sebuah Berbayang Kutub AC Motor
Berikut adalah foto dari tiang teduh khas motor. Lihat close-up dari takik dalam laminasi dan berliku berat tambahan dari dua putaran fase menciptakan perbedaan antara dua bagian dari laminasi, memberikan medan magnet gerakan terarah. rotor berputar CW seperti terlihat dari akhir dengan sekrup pada poros. Motors seperti ini digunakan dalam ribuan aplikasi.
Another Shaded Pole AC Motor Kutub Berbayang lain AC Motor
Berikut adalah foto dari mesin kipas langit-langit, juga naungan tiang, tapi dengan enam gulungan bukan hanya satu seperti yang terlihat di atas. Rotor laminasi yang miring untuk memberikan torsi lebih halus. Tiang potongan dengan gulungan memiliki slot dalam diri mereka untuk menciptakan sebuah tertunda fluks, menciptakan sebuah arah rotasi.
A Universal Motor Universal Motor
Dan di sini adalah foto dari motor universal. Ini memiliki kuas seperti motor DC, tetapi akan beroperasi pada AC atau DC.
A 3-Phase AC Motor Demonstrator A 3-Phase AC Motor Demonstrator
Berikut adalah proyek anak saya bekerja. Hal ini menunjukkan bagaimana sebuah 3-fase motor AC bekerja dengan medan magnet yang berputar dan sebuah rotor magnet permanen, menjadikannya sebuah motor AC sinkron. Pushbuttons Saat ini ada yang memungkinkan user untuk mengaktifkan salah satu dari pasangan yang berlawanan kumparan, baik dalam sebuah NS atau orientasi SN. Sebagai contoh, tombol hijau menyala sepasang horizontal kumparan dalam orientasi SN. tombol kuning menyala sepasang horizontal kumparan dalam orientasi NS. Pada masing-masing kumparan adalah bi-color LED untuk menunjukkan polaritas magnetik kumparan ketika dihidupkan. Kekuatan untuk kumparan (masing-masing pasangan terhubung secara paralel) diberikan oleh sebuah komputer 5v power supply. The kumparan menarik tentang 4amps di 5VDC masing-masing, sehingga pasokan dengan 23amps tersedia adalah pertandingan yang hebat. Setiap kumparan dipasang pada suatu 3 / 4 "baut, terikat pada sebuah engsel. Dengan cara ini, set kumparan dapat dilipat ke bawah keluar dari jalan untuk menunjukkan bagaimana sebuah tiang berbayang motor bekerja. Rotor adalah sebatang baja dengan NIB magnet pada setiap ujungnya. Rotor tidak berosilasi sedikit ketika pergi dari koil ke koil.
Here's more photos: Berikut more photos:
Dengan menekan tombol berwarna dalam urutan yang benar, rotor akan mengikuti medan magnet dalam mode searah jarum jam. Semakin cepat Anda pergi melalui urutan, semakin cepat rotor akan berputar. Hal ini menunjukkan bahwa kecepatan motor ini tergantung pada frekuensi kekuatan diberikan kepadanya. Semakin tinggi frekuensi, semakin cepat berjalan. Pada 60Hz, akan memutar pada 1 revolusi / siklus * 60 siklus / detik * 60 sec / min = 3600 putaran per menit atau rpm.
Three Phase AC Motor Stator AC Motor Tiga Phase Stator
Industrial AC Motors Industrial AC Motors
Ini adalah cut-aways industri aktual motor AC tiga fase. Mereka memiliki peringkat HP yang berbeda, dari 5hp, 2hp, 900hp. Mereka ini dibuat oleh Reliance Electric (digunakan untuk menjadi bagian dari Rockwell Automation, sekarang bagian dari Baldor Electric).
Linear motors Linear motor
Sebuah motor linear seperti motor ac, tetapi membuka bungkusan dan mengeluarkan datar. Foto-foto menunjukkan bagian-bagian motor linier. Ada yang datar bagian kumparan dan magnet, yang lain adalah "T" berbentuk. Periksa www.anorad.com untuk info lebih lanjut .
Informasi lebih lanjut tersedia dalam dua artikel yang sangat baik:
http://www-cdr.stanford.edu/dynamic/linear_engine/eng_ref/electric_motors/motion1.pdf http://www-cdr.stanford.edu/dynamic/linear_engine/eng_ref/electric_motors/motion1.pdf
http://www-cdr.stanford.edu/dynamic/linear_engine/eng_ref/electric_motors/motion2.pdf http://www-cdr.stanford.edu/dynamic/linear_engine/eng_ref/electric_motors/motion2.pdf
Lebih lanjut mengenai motor linear drive langsung:
http://www.ifr.mavt.ethz.ch/publications/sprenger97a.pdf http://www.ifr.mavt.ethz.ch/publications/sprenger97a.pdf
http://www.ifr.mavt.ethz.ch/publications/sprenger98.pdf http://www.ifr.mavt.ethz.ch/publications/sprenger98.pdf
Instalasi Penerangan: Teori Dasar Pencahayaan
Sejak dimulainya peradaban, manusia menciptakan cahaya hanya dari api, walaupun lebih banyak sumber panasnya daripada cahaya yang dihasilkan. Di abad ke 21 ini kita masih menggunakan prinsip yang sama dalam menghasilkan panas dan cahaya, salahsatunya adalah melalui lampu pijar.
Hanya dalam beberapa dekade terakhir produk-produk penerangan menjadi lebih canggih dan beraneka ragam. Perkiraan menunjukan bahwa pemakaian energi oleh penerangan adalah 20 - 45% untuk pemakaian energi total oleh bangunan komersial dan sekitar 3 - 10% untuk pemakaian energi total oleh industri.
Hampir kebanyakan pengguna energi komersial dan industri peduli penghematan energi dalam sistim penerangan. Seringkali, penghematan energy yang cukup berarti dapat didapatkan dengan investasi yang minim dan masuk akal. Mengganti lampu uap merkuri atau sumber lampu pijar dengan logam halida atau sodium bertekanan tinggi, sehingga akan menghasilkan pengurangan biaya energi dan meningkatkan jarak penglihatan. Memasang dan menggunakan kontrol foto, pengaturan waktu penerangan, dan sistim manajemen energi juga dapat memperoleh penghematan yang luar biasa. Walau begitu, dalam beberapa kasus mungkin perlu mempertimbangkan modifikasi rancangan penerangan untuk mendapatkan penghematan energi yang dikehendaki. Penting untuk dimengerti bahwa lampu-lampu yang efisien, belum tentu merupakan sistim penerangan yang efisien.
Teori Dasar Mengenai Cahaya
Cahaya hanya merupakan satu bagian dari berbagai jenis gelombang elektromagnetis yang terbang ke angkasa. Gelombang tersebut memiliki panjang dan frekuensi tertentu, yang nilainya dibedakan dari energi cahaya lainnya dalam spektrum elektromagnetisnya.
Cahaya dipancarkan dari suatu benda dengan fenomena sebagai berikut:
• Pijar, benda padat dan cair memancarkan radiasi yang dapat dilihat bila dipanaskan sampai suhu tertentu. Intensitas meningkat dan penampilan menjadi semakin putih jika suhu naik.
• Muatan Listrik, jika arus listrik dilewatkan melalui gas,maka atom dan molekulnya akan memancarkan radiasi, dimana spektrumnya merupakan karakteristik dari elemen yang ada.
• Electro Luminescence, Cahaya dihasilkan jika arus listrik dilewatkan melalui padatan tertentu seperti semikonduktor atau bahan yang mengandung fosfor.
• Photo luminescence, radiasi pada salahsatu panjang gelombang diserap, biasanya oleh suatu padatan dan dipancarkan kembali pada berbagai panjang gelombang. Bila radiasi yang dipancarkan kembali tersebut merupakan fenomena yang dapat terlihat, maka radiasi tersebut disebut fluorescence atau phosphorescence.
Cahaya nampak, seperti yang dapat dilihat pada spektrum elektromagnetik, diberikan dalam Gambar 1, menyatakan gelombang yang sempit diantara cahaya ultraviolet (UV) dan energi inframerah (panas). Gelombang cahaya tersebut mampu merangsang retina mata, yang menghasilkan sensasi penglihatan yang disebut pandangan. Oleh karena itu, penglihatan memerlukan mata yang berfungsi dan cahaya yang nampak.
Gambar 1. Radiasi yang Tampak
Definisi dan Istilah yang Umum Digunakan
• Lumen: Satuan flux cahaya; flux dipancarkan didalam satuan unit sudut padatan oleh suatu sumber dengan intensitas cahaya yang seragam satu candela. Satu lux adalah satu lumen per meter persegi. Lumen (lm) adalah kesetaraan fotometrik dari watt, yang memadukan respon mata “pengamat standar”. 1 watt = 683 lumens pada panjang gelombang 555 nm.
• Efficacy Beban Terpasang: Merupakan iluminasi/terang rata-rata yang dicapai pada suatu bidang kerja yang datar per watt pada pencahayaan umum didalam ruangan yang dinyatakan dalam lux/W/m².
• Perbandingan Efficacy Beban Terpasang: Merupakan perbandingan efficacy beban target dan beban terpasang.
• Luminaire: Luminaire adalah satuan cahaya yang lengkap, terdiri dari sebuah lampu atau beberapa lampu, termasuk rancangan pendistribusian cahaya, penempatan dan perlindungan lampu-lampu, dan dihubungkannya lampu ke pasokan daya.
• Lux: Merupakan satuan metrik ukuran cahaya pada suatu permukaan. Cahaya rata-rata yang dicapai adalah rata-rata tingkat lux pada berbagai titik pada area yang sudah ditentukan. Satu lux setara dengan satu lumen per meter persegi. Tinggi mounting: Merupakan tinggi peralatan atau lampu diatas bidang kerja. Efficacy cahaya terhitung: Perbandingan keluaran lumen terhitung dengan pemakaian daya terhitung dinyatakan dalam lumens per watt.
• Indeks Ruang: Merupakan perbandingan, yang berhubungan dengan ukuran bidang keseluruhan terhadap tingginya diantara tinggi bidang kerja dengan bidang titik lampu.
• Efficacy Beban Target: Nilai efficacy beban terpasang yang dicapai dengan efisiensi terbaik, dinyatakan dalam lux/W/m².
• Faktor pemanfaatan (UF): Merupakan bagian flux cahaya yang dipancarkan oleh lampu-lampu, menjangkau bidang kerja. Ini merupakan suatu ukuran efektivitas pola pencahayaan.
• Intensitas Cahaya dan Flux: Satuan intensitas cahaya I adalah candela (cd) juga dikenal dengan international candle. Satu lumen setara dengan flux cahaya, yang jatuh pada setiap meter persegi (m2) pada lingkaran dengan radius satu meter (1m) jika sumber cahayanya isotropik 1-candela (yang bersinar sama ke seluruh arah) merupakan pusat isotropik lingkaran. Dikarenakan luas lingkaran dengan jari-jari r adalah 4πr2, maka lingkaran dengan jari-jari 1m memiliki luas 4πm2, dan oleh karena itu flux cahaya total yang dipancarkan oleh sumber 1- cd adalah 4π1m. Jadi flux cahaya yang dipancarkan oleh sumber cahaya isotropik dengan intensitas I adalah:
Flux cahaya (lm) = 4π × intensitas cahaya (cd)
Perbedaan antara lux dan lumen adalah bahwa lux berkenaan dengan luas areal pada mana flux menyebar 1000 lumens, terpusat pada satu areal dengan luas satu meter persegi, menerangi meter persegi tersebut dengan cahaya 1000 lux. Hal yang sama untuk 1000 lumens, yang menyebar kesepuluh meter persegi, hanya menghasilkan cahaya suram 100 lux.
Hukum kuadrat terbalik
Hukum kuadrat terbalik mendefinisikan hubungan antara pencahayaan dari sumber titik dan jarak. Rumus ini menyatakan bahwa intensitas cahaya per satuan luas berbanding terbalik dengan kuadrat jarak dari sumbernya (pada dasarnya jari-jari).
E = I / d²
Dimana
E = Emisi cahaya,
I = Intensitas cahaya
d = jarak
Bentuk lain dari persamaan ini yang lebih mudah adalah:
E1 d1² = E2 d2²
Jarak diukur dari titik uji ke permukaan yang pertama-tama kena cahaya – kawat lampu pijar jernih, atau kaca pembungkus dari lampu pijar yang permukaannya seperti es.
Contoh: Jika seseorang mengukur 10 lm/m² dari sebuah cahaya bola lampu pada jarak 1 meter, berapa kerapatan flux pada jarak setengahnya?
Penyelesaian:
E1m = (d2 / d1)² * E2
= (1,0 / 0,5)² * 10
= 40 lm/m²
Suhu Warna
Suhu warna, dinyatakan dalam skala Kelvin (K), adalah penampakan warna dari lampu itu sendiri dan cahaya yang dihasilkannya. Bayangkan sebuah balok baja yang dipanaskan secara terus menerus hingga berpijar, pertama-tama berwarna oranye kemudian kuning dan seterusnya hingga menjadi “putih panas”. Sewaktu-waktu selama pemanasan, kita dapat mengukur suhu logam dalam Kelvin (Celsius + 273) dan memberikan angka tersebut kepada warna yang dihasilkan. Hal ini merupakan dasar teori untuk suhu warna. Untuk lampu pijar, suhu warna merupakan nilai yang “sesungguhnya”; untuk lampu neon dan lampu dengan pelepasan intensitas tinggi (HID), nilainya berupa perkiraan dan disebut korelasi suhu warna. Di Industri,“suhu warna” dan “korelasi suhu warna” kadang-kadang digunakan secara bergantian. Suhu warna lampu membuat sumber cahaya akan nampak “hangat”, “netral” atau “sejuk”. Umumnya, makin rendah suhu, makin hangat sumber, dan sebaliknya.
Perubahan Warna
Kemampuan sumber cahaya merubah warna permukaan secara akurat dapat diukur dengan baik oleh indeks perubahan warna. Indeks ini didasarkan pada ketepatan dimana serangkaian uji warna dipancarkan kembali oleh lampu yang menjadi perhatian relatif terhadap lampu uji, persesuaian yang sempurna akan diberi angka 100. Indeks CIE memiliki keterbatasan, namun cara ini merupakan cara yang sudah diterima secara luas untuk sifat-sifat perubahan warna dari sumber cahaya.
Kesalah pahaman yang umum terjadi adalah bahwa suhu warna dan perubahaan warna keduanya menjelaskan sifat yang sama terhadap lampu. Selain itu, suhu warna menjelaskan penampilan warna sumber cahaya dan cahaya yang dipancarkannya. Perubahan warna menjelaskan bagaimana cahaya merubah warna suatu objek.
Artikel Terkait
Dasar-Dasar Elektromekanik
1. Konversi Energi Elektromekanik
Konversi energi baik dari energi listrik menjadi energi mekanik (motor) maupun sebaliknya dari energi mekanik menjadi energi listrik (generator) berlangsung melalui medium medan magnet. Energi yang akan diubah dari satu sistem ke sistem lainnya, sementara akan tersimpan pada medium medan magnet untuk kemudian dilepaskan menjadi energi sistem lainnya. Dengan demikian, medan magnet selain berfungsi sebagai tempat penyimpanan energi juga sekaligus sebagai medium untuk mengkopel perubahan energi.
Dengan mengingat hukum kekekalan energi, proses konversi energi elektromekanik dapat dinyatakan sebagai berikut (untuk motor):
(Energi Listrik sebagai input) = (Energi Mekanik sebagai output + Energi panas) + (Energi pada medan magnet dan rugi-rugi magnetic)
atau dalam persamaan differensial, konversi energi dari elektris ke mekanis adalah sebagai berikut:
dWE = dWM + dWF
Ini hanya berlaku ketika proses konversi energi sedang berlangsung pada keadaan dinamis yang transient. Untuk keadaan tunak, dimana fluks merupakan harga yang konstan, maka;
dWF = 0
dWE = dWM
2. Gaya Gerak Listrik
Apabila sebuah konduktor digerakkan tegak lurus sejauh ds memotong suatu medan magnet dengan kerapatan fluks B, maka perubahan fluks pada konduktor dengan panjang efektif l adalah:
dO = B l ds
Dari Hukum Faraday diketahui bahwa gaya gerak listrik (ggl)
E = d/dt
Maka e = B l ds/dt; dimana ds/dt = v = kecepatan
Jadi, e = B l v
3. Kopel
Arus listrik I yang dihasilkan di dalam suatu medan magnet dengan kerapatan fluks B akan menghasilkan suatu gaya F sebesar:
F = B I l
Jika jari-jari rotor adalah r, maka kopel yang dibangkitkan adalah
T = F r
Perlu diingat bahwa saat gaya F dibangkitkan, konduktor bergerak di dalam medan magnet da seperti diketahui akan menimbulkan gaya gerak listrik yang merupakan reaksi (lawan) terhadap tegangan penyebabnya. Agar proses konversi energi listrik menjadi energi mekanik (motor) dapat berlangsung, tegangan sumber harus lebih besar daripada gaya gerak listrik lawan.
Begitu pula, suatu gerak konduktor di dalam medan magnet akan membangkitkan tegangan e = B l V dan bila dihubungkan dengan beban, akan mengalir arus listrik I atau energi mekanik berubah menjadi energi listrik (generator). Arus listrik yang mengalir pada konduktor tadi merupakan medan magnet pula dan akan berinteraksi dengan medan magnet yang telah ada (B). Interaksi medan magnet merupakan gaya reaksi (lawan) terhadap gerak mekanik yang diberikan. Agar konversi energi mekanik ke energi listrik dapat berlangsung, energi mekanik yang diberikan haruslah lebih besar dari gaya reaksi tadi.
4. Mesin Dinamik Elementer
Pada umumnya mesin dinamik terdiri atas bagian yang berputar disebut rotor dan bagian yang diam disebut stator. Di antara rotor dan stator terdapat celah udara. Stator merupakan kumparan medan yang berbentuk kutub sepatu dan rotor merupakan kumparan jangkar dengan belitan konduktor yang saling dihubungkan ujungnya (lihat gambar) untuk mendapatkan tegangan induksi (ggl).
Jika kumparan rotor diputar dengan arah berlawanan dari arah jarum jam, tegangan akan dibangkitkan dengan arah yang berlawanan pada kedua ujung rotor yang tidak dihubungkan.
5. Interaksi Medan Magnet
Kerja suatu mesin dinamis dapat juga dilihat dari segi adanya interaksi antar medan magnet stator dan rotor, yaitu:
F = B I l
Seperti diketahui, arus listrik (I) pada persamaan di atas akan menimbulkan fluks juga di sekitar konduktor yang dilalui. Bila kerapatan fluks akibat arus listrik dinyatakan dengan Bs (pada stator), sedang kerapatan fluks akibat kumparan medan adalah Br (pada rotor), maka dapat dituliskan:
T = K Br Bs sin
Dimana
adalah sudut antara kedua sumbu medan magnet Br dan Bs
K adalah konstanta l x r
Sudut dikenal sebagai sudut kopel atau sudut daya dengan harga maksimum = 90o.
Dengan menganggap Br dan Bs sebagai fungsi arus rotor dan arus stator, persamaan kopel menjadi:
T = K Ir Is sin
Dengan demikian, kopel terjadi sebagai interaksi antara dua medan magnet atau dua arus.
6. Derajat Listrik
Pada setiap satu kali putaran mesin, tegangan induksi yang ditimbulkan sudah menyelesaikan p/2 kali putaran. Maka untuk mesin 4 kutub, satu kali putaran mekanik mesin (360o) berarti sama dengan dua kali putaran listrik (720o). Persamaan umumnya adalah sebagai berikut:
e = (p/2) m
p = jumlah kutub mesin
e = sudut listrik
m = sudut mekanik
7. Frekuensi
Dari persamaan di atas, diketahui bahwa untuk setiap satu siklus tegangan listrik yang dihasilkan, mesin telah menyelesaikan p/2 kali putaran. Karena itu frekuensi gelombang tegangan adalah:
f = (p/2)x(n/60)
dimana;
n = rotasi per menit
n/60 = rotasi perdetik
Kecepatan sinkron untuk mesin arus bolak-balik lazim dinyatakan dengan
ns = 120 (f/p)
Jadi misalnya untuk generator sinkron yang bekerja dengan frekuensi 50 putaran per detik dan mempunyai jumlah kutub p=2, maka kecepatan berputar mesin tersebut adalah:
ns = (120 x 50)/2 = 3000 rpm.
refrerensi:
Dasar Teknik Tenaga Listrik dan Elektronika Daya – ZUHAL
Untuk pembahasan tingkat lanjut, silahkan baca artikelnya di sini dan sini
Artikel Terkait
PUIL 2000 (Persyaratan Umum Instalasi Listrik)
Sejarah Singkat PUIL
Peraturan instalasi listrik yang pertama kali digunakan sebagai pedoman beberapa instansi yang berkaitan dengan instalasi listrik adalah AVE (Algemene Voorschriften voor Electrische Sterkstroom Instalaties) yang diterbitkan sebagai Norma N 2004 oleh Dewan Normalisasi Pemerintah Hindia Belanda. Kemudian AVE N 2004 ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan pada tahun 1964 sebagai Norma Indonesia NI6 yang kemudian dikenal sebagai Peraturan Umum Instalasi Listrik disingkat PUIL 1964, yang merupakan penerbitan pertama dan PUIL 1977 dan PUIL 1987 adalah penerbitan PUIL yang kedua dan ketiga yang merupakan hasil penyempurnaan atau revisi dari PUIL sebelumnya, maka PUIL 2000 ini merupakan terbitan ke 4.
Jika dalam penerbitan PUIL 1964, 1977 dan 1987 nama buku ini adalah Peraturan Umum Instalasi Listrik, maka pada penerbitan sekarang tahun 2000, namanya menjadi Persyaratan Umum Instalasi Listrik dengan tetap mempertahankan singkatannya yang sama yaitu PUIL.
Penggantian dari kata “Peraturan” menjadi “Persyaratan” dianggap lebih tepat karena pada perkataan “peraturan” terkait pengertian adanya kewajiban untuk mematuhi ketentuannya dan sangsinya. Sebagaimana diketahui sejak AVE sampai dengan PUIL 1987 pengertian kewajiban mematuhi ketentuan dan sangsinya tidak diberlakukan sebab isinya selain mengandung hal-hal yang dapat dijadikan peraturan juga mengandung rekomendasi ataupun ketentuan atau persyaratan teknis yang dapat dijadikan pedoman dalam pelaksanaan pekerjaan instalasi listrik.
Sejak dilakukannya penyempurnaan PUIL 1964, publikasi atau terbitan standar IEC (International Electrotechnical Commission) khususnya IEC 60364 menjadi salah satu acuan utama disamping standar internasional lainnya. Juga dalam terbitan PUIL 2000, usaha untuk lebih mengacu IEC ke dalam PUIL terus dilakukan, walaupun demikian dari segi kemanfaatan atau kesesuaian dengan keadaan di Indonesia beberapa ketentuan mengacu pada standar dari NEC (National Electric Code), VDE (Verband Deutscher Elektrotechniker) dan SAA (Standards Association Australia).
PUIL 2000 merupakan hasil revisi dari PUIL 1987, yang dilaksanakan oleh Panitia Revisi PUIL 1987 yang ditetapkan oleh Menteri Pertambangan dan Energi dalam Surat Keputusan Menteri No:24-12/40/600.3/1999, tertanggal 30 April 1999 dan No:51-12/40/600.3/1999, tertanggal 20 Agustus 1999. Anggota Panitia Revisi PUIL tersebut terdiri dari wakil dari berbagai Departemen seperti DEPTAMBEN, DEPKES, DEPNAKER, DEPERINDAG, BSN, PT PLN, PT Pertamina, YUPTL, APPI, AKLI, INKINDO, APKABEL, APITINDO, MKI, HAEI, Perguruan Tinggi ITB, ITI, ISTN, UNTAG, STTY-PLN, PT Schneider Indonesia dan pihak pihak lain yang terkait.
Bagian 1 dan Bagian 2 tentang Pendahuluan dan Persyaratan dasar merupakan padanan dari IEC 364-1 Part 1 dan Part 2 tentang Scope, Object Fundamental Principles and Definitions.
Bagian 3 tentang Proteksi untuk keselamatan banyak mengacu pada IEC 60364 Part 4 tentang Protection for safety. Bahkan istilah yang berkaitan dengan tindakan proteksi seperti SELV yang bahasa Indonesianya adalah tegangan extra rendah pengaman digunakan sebagai istilah baku, demikian pula istilah PELV dan FELV. PELV adalah istilah SELV yang dibumikan sedangkan FELV adalah sama dengan tegangan extra rendah fungsional. Sistem kode untuk menunjukan tingkat proteksi yang diberikan oleh selungkup dari sentuh langsung ke bagian yang berbahaya, seluruhnya diambil dari IEC dengan kode IP (International Protection). Demikian pula halnya dengan pengkodean jenis sistem pembumian. Kode TN mengganti kode PNP dalam PUIL 1987, demikian juga kode TT untuk kode PP dan kode IT untuk kode HP.
Bagian 4 tentang Perancangan instalasi listrik, dalam IEC 60364 Part 3 yaitu Assessment of General Characteristics, tetapi isinya banyak mengutip dari SAA Wiring Rules dalam section General Arrangement tentang perhitungan kebutuhan maksimum dan penentuan jumlah titik sambung pada sirkit akhir.
Bagian 5 tentang Perlengkapan Listrik mengacu pada IEC 60364 Part 5: Selection and erection of electrical equipment dan standar NEC.
Bagian 6 tentang Perlengkapan hubung bagi dan kendali (PHB) serta komponennya merupakan pengembangan Bab 6 PUIL 1987 dengan ditambah unsur unsur dari NEC.
Bagian 7 tentang Penghantar dan pemasangannya tidak banyak berubah dari Bab 7 PUIL 1987. Perubahan yang ada mengacu pada IEC misalnya cara penulisan kelas tegangan dari penghantar. Ketentuan dalam Bagian 7 ini banyak mengutip dari standar VDE. Dan hal hal yang berkaitan dengan tegangan tinggi dihapus.
Bagian 8 tentang Ketentuan untuk berbagai ruang dan instalasi khusus merupakan pengembangan dari Bab 8 PUIL 1987. Dalam PUIL 2000 dimasukkan pula klarifikasi zona yang diambil dari IEC, yang berpengaruh pada pemilihan dari perlengkapan listrik dan cara pemasangannya di berbagai ruang khusus. Ketentuan dalam Bagian 8 ini merupakan bagian dari IEC 60364 Part 7, Requirements for special installations or locations.
Bagian 9 meliputi Pengusahaan instalasi listrik. Pengusahaan dimaksudkan sebagai perancangan, pembangunan, pemasangan, pelayanan, pemeliharaan, pemeriksaan dan pengujian instalasi listrik serta proteksinya. Di IEC 60364, pemeriksaan dan pengujian awal instalasi listrik dibahas dalam Part 6: Verification. PUIL 2000 berlaku untuk instalasi listrik dalam bangunan dan sekitarnya untuk tegangan rendah sampai 1000 V a.b dan 1500 V a.s, dan gardu transformator distribusi tegangan menengah sampai dengan 35 kV. Ketentuan tentang transformator distribusi tegangan menengah mengacu dari NEC 1999.
Pembagian dalam sembilan bagian dengan judulnya pada dasarnya sama dengan bagian yang sama pada PUIL 1987. PUIL 2000 tidak menyebut pembagiannya dalam Pasal, Subpasal, Ayat atau Subayat. Pembedaan tingkatnya dapat dilihat dari sistim penomorannya dengan digit. Contohnya Bagian 4, dibagi dalam 4.1; 4.2; dan seterusnya, sedangkan 4.2 dibagi dalam 4.2.1 sampai dengan 4.2.9 dibagi lagi dalam 4.2.9.1 sampai dengan 4.2.9.4. Jadi untuk menunjuk kepada suatu ketentuan, cukup dengan menuliskan nomor dengan jumlah digitnya.
Seperti halnya pada PUIL 1987, PUIL 2000 dilengkapi pula dengan indeks dan lampiran lampiran lainnya pada akhir buku. Lampiran mengenai pertolongan pertama pada korban kejut listrik yang dilakukan dengan pemberian pernapasan bantuan, diambilkan dari standar SAA, berbeda dengan PUIL 1987.
Untuk menampung perkembangan di bidang instalasi listrik misalnya karena adanya ketentuan baru dalam IEC yang dipandang penting untuk dimasukkan dalam PUIL, atau karena adanya saran, tanggapan dari masyarakat pengguna PUIL, maka dikandung maksud bila dipandang perlu akan menerbitkan amandemen pada PUIL 2000. Untuk menangani hal hal tersebut telah dibentuk Panitia Tetap PUIL. Panitia Tetap PUIL dapat diminta pendapatnya jika terdapat ketidakjelasan dalam memahami dan menerapkan ketentuan PUIL 2000. Untuk itu permintaan penjelasan dapat ditujukan kepada Panitia Tetap PUIL.
PUIL 2000 ini diharapkan dapat memenuhi keperluan pada ahli dan teknisi dalam melaksanakan tugasnya sebagai perancang, pelaksana, pemilik instalasi listrik dan para inspektor instalasi listrik. Meskipun telah diusahakan sebaik-baiknya, panitia revisi merasa bahwa dalam persyaratan ini mungkin masih terdapat kekurangannya. Tanggapan dan saran untuk perbaikan persyaratan ini sangat diharapkan.
PUIL 2000 ini tidak mungkin terwujud tanpa kerja keras dari seluruh anggota Panitia Revisi PUIL 1987, dan pihak pihak terkait lainnya yang telah memberikan berbagai macam bantuan baik dalam bentuk tenaga, pikiran, sarana maupaun dana sehingga PUIL 2000 dapat diterbitkan dalam bentuknya yang sekarang. Atas segala bantuan tersebut Panitia Revisi PUIL mengucapkan terima kasih sebesar besarnya.
Jakarta, Desember 2000
Panitia Revisi PUIL
Silahkan download PUIL 2000, di "Forum Dunia Listrik/Download/PUIL2000"
semoga bermanfaat...!
Artikel Terkait
X. LISTRIK STATIS
X.1 Hukum Coulomb
Tinjaulah interaksi antara dua benda bermuatan yang dimensi geometrinya dapat diabaikan terhadap jarak antar keduanya. Maka dalam pendekatan yang cukup baik dapat dianggap bahwa kedua benda bermuatan tersebut sebagai titik muatan. Charles Augustin de Coulomb(1736-1806) pada tahun 1784 mencoba mengukur gaya tarik atau gaya tolak listrik antara dua buah muatan tersebut. Ternyata dari hasil percobaannya, diperoleh hasil sebagai berikut:
* Pada jarak yang tetap, besarnya gaya berbanding lurus dengan hasil kali muatan dari masing –masing muatan.Contoh 1:
Muatan titik q1 dan q2 terletak pada bidang XY dengan koordinat berturut-turut(x1,y1) dan (x2,y2), tentukanlah :a. Gaya pada muatan q1 oleh muatan q2
b. Gaya pada muatan q1 oleh muatan q2
a. Gaya pada muatan q1 oleh muatan q2
Dalam keadaan Rill , titik-titik muatan selalu terdapat dalam jumlah yang besar. Maka timbullah pertanyaan : apakah interaksi antara dua titik muatan yang diatur oleh Hukum Coulomb dapat dipengaruhi oleh titik lain disekitarnya? Jawabannya adalah tidak, karena pada interaksi elektrostatik hanya meninjau interaksi antar dua buah muatan, jika lebih dari dua buah muatan maka diberlakukan prinsip superposisi (penjumlahan dari semua gaya interaksinya).
Secara matematik, prinsip superposisi tersebut dapat dinyatakan dengan mudah sekali dalam notasi vektor. Jadi misalnya F12 menyatakan gaya antara q1 dan q2 tanpa adanya muatan lain disekitarnya, maka menurut Hukum Coulomb,Begitu pula interaksi antara q1 dan q3 tanpa adanya muatan q2, dinyatakan oleh :
Tiga buah muatanmasing-masing q1 = 4 C pada posisi (2,3), q2 = -2 C pada posisi(5,-1) dan q3 = 2 C pada posisi (1,2) dalam bidang x-y. Hitung resultan gaya pada q2 jika posisi dinyatakan dalam meter.
Penyelesaian :
